Apphemeride

Glosarium astronomi

Glosarium astronomi: memahami istilah langit

Efemeris, koordinat, dan gerhana memiliki istilah tersendiri. Banyak di antaranya muncul saat Anda menggunakan Apphemeride. Glosarium ini menjelaskan maknanya secara ringkas dan menghubungkannya dengan panduan untuk pembahasan lebih lanjut.

A

Aberasi
Pergeseran posisi tampak benda langit karena cahaya merambat dengan kecepatan terbatas sementara Bumi bergerak mengelilingi Matahari sekitar 30 kilometer per detik. Aberasi tahunan mencapai sekitar 20,5 detik busur dan perlu diperhitungkan untuk menentukan posisi tampak secara teliti.
Afelion
Titik terjauh dari Matahari pada orbit sebuah benda. Bumi mencapainya pada awal Juli, sekitar 152 juta kilometer dari Matahari. Saat itu belahan utara mengalami musim panas dan belahan selatan musim dingin; pergantian musim terutama disebabkan kemiringan sumbu Bumi, bukan jaraknya dari Matahari.
Albedo
Ukuran kemampuan permukaan memantulkan cahaya yang datang. Albedo geometrik Bulan sekitar 0,12 sehingga permukaannya relatif gelap, sedangkan awan Venus jauh lebih reflektif. Bersama ukuran dan jarak benda, albedo memengaruhi kecerlangan yang terlihat; jenis albedo harus dibedakan ketika membandingkan angka.Panduan: Magnitudo bintang — angka kecil berarti lebih terang
Analema
Pola menyerupai angka delapan yang terbentuk jika posisi Matahari dicatat pada waktu Matahari rata-rata yang sama setiap hari selama setahun. Perubahan deklinasi menentukan bentangan utara–selatan, sedangkan persamaan waktu menentukan penyimpangan ke samping. Bentuk dan orientasinya di langit bergantung pada lokasi pengamatan.Panduan: Analema — mengapa Matahari membentuk angka delapan?
Antumbra
Wilayah setelah ujung umbra tempat benda penghalang berada tepat di depan sumber cahaya tetapi tampak terlalu kecil untuk menutupinya sepenuhnya. Jika umbra Bulan tidak mencapai Bumi, antumbra dapat jatuh di permukaannya. Pengamat di dalamnya melihat gerhana Matahari cincin dengan lingkaran cahaya di sekeliling Bulan.Panduan: Gerhana cincin — mengapa tersisa lingkaran cahaya?
Apogeum
Titik terjauh dari Bumi pada orbit Bulan atau orbit lain yang mengelilingi Bumi. Jarak Bulan di dekat apogeum sekitar 405.000 kilometer, dengan nilai yang berubah antarorbit. Purnama dekat apogeum sering disebut minimoon karena diameter tampaknya lebih kecil.Panduan: Supermoon dan minimoon — jarak mengubah ukuran tampak
Asensio rekta
Koordinat sepanjang ekuator langit, dihitung ke timur dari titik Aries, biasanya dalam jam, menit, dan detik dari 0 hingga 24 jam. Perannya menyerupai bujur geografis. Bersama waktu sideris lokal, asensio rekta menentukan kapan suatu benda melintasi meridian; acuan koordinatnya harus sesuai.Panduan: Asensio rekta dan deklinasi — bujur lintang langit
Asterisme
Pola bintang yang mudah dikenali tetapi bukan satu rasi resmi tersendiri. Contohnya Sabuk Orion dan Segitiga Musim Panas yang dibentuk Vega, Deneb, dan Altair; nama musiman terakhir berasal dari belahan utara. Bagi pengamat Indonesia, keterlihatannya tetap bergantung pada waktu dan lokasi.Panduan: Mengenali rasi — pola bintang sebagai penunjuk
Azimut
Arah suatu benda sepanjang horizon. Konvensi yang digunakan di sini dimulai dari utara pada 0°, bertambah melalui timur 90°, selatan 180°, dan barat 270°. Azimut bersama ketinggian sudut menunjukkan arah pandang dari lokasi pengamat, baik di utara maupun selatan khatulistiwa.Panduan: Posisi Matahari — azimut, ketinggian dan bayangan

B

Bilangan bintik Matahari
Ukuran aktivitas bintik Matahari yang juga dikenal sebagai bilangan Wolf. Dasarnya ialah sepuluh kali jumlah kelompok bintik ditambah jumlah bintik individual, lalu dikalikan faktor koreksi instrumen dan pengamat. Deret pengamatan historisnya menjangkau abad ke-18 dan digunakan untuk mengikuti siklus aktivitas Matahari.Panduan: Bintik Matahari — siklus dan pengamatan aman
Bulan sinodis
Selang dari satu Bulan baru ke Bulan baru berikutnya, rata-rata sekitar 29,53 hari. Lebih panjang daripada bulan sideris sekitar 27,32 hari karena Bumi juga bergerak mengelilingi Matahari, sehingga Bulan perlu bergerak lebih jauh untuk kembali ke susunan fase yang sama.Panduan: Fase Bulan — Bulan baru, perbani dan purnama

C

Cahaya Bumi
Cahaya redup keabu-abuan pada sisi malam Bulan, berasal dari sinar Matahari yang dipantulkan Bumi ke Bulan lalu kembali ke pengamat. Paling mudah terlihat ketika sabit masih tipis, beberapa hari sebelum atau sesudah Bulan baru, dengan langit cukup gelap dan Bulan cukup tinggi.Panduan: Cahaya Bumi — mengapa sisi gelap sabit terlihat?

D

Deklinasi
Jarak sudut benda langit dari ekuator langit, positif ke utara dan negatif ke selatan, dari +90° hingga −90°. Perannya menyerupai lintang geografis di Bumi. Bersama lintang pengamat, deklinasi menentukan tinggi lintasan benda dan kemungkinan melewati zenit atau tetap di bawah horizon.Panduan: Asensio rekta dan deklinasi — bujur lintang langit
Delta T
ΔT adalah selisih Waktu Terestrial yang seragam terhadap waktu rotasi Bumi UT1. Rotasi Bumi tidak sepenuhnya teratur, sehingga nilainya berubah terhadap zaman dan memerlukan data atau model yang sesuai. ΔT bukan selisih tetap TT–UTC dan bukan pula koreksi zona waktu.Panduan: Hari Julian, UT, TT dan ΔT — waktu dalam astronomi
Detik kabisat
Penyesuaian satu detik pada UTC untuk membatasi selisihnya dari UT1 akibat rotasi Bumi yang tidak seragam. Aturan lama membatasi selisih hingga 0,9 detik. Resolusi 5 CGPM 2026 menetapkan UTC berkelanjutan mulai 20 Mei 2027 dengan batas baru yang jauh lebih longgar; aturan waktu harus dipahami sesuai masa berlakunya, bukan sebagai koreksi tetap.Panduan: Hari Julian, UT, TT dan ΔT — waktu dalam astronomi
Diameter sudut
Ukuran tampak piringan benda sebagai sudut, dalam derajat, menit busur, atau detik busur. Matahari dan Bulan masing-masing tampak sekitar setengah derajat; piringan Jupiter sekitar 30–50 detik busur menurut jaraknya. Diameter sudut ditentukan bersama oleh ukuran fisik dan jarak benda dari pengamat.Panduan: Supermoon dan minimoon — jarak mengubah ukuran tampak

E

Efemeris
Tabel atau hasil perhitungan yang memberikan posisi dan data lain suatu benda langit untuk serangkaian waktu. Efemeris dapat digunakan untuk memahami perubahan langit dan merencanakan pengamatan. Istilah ini berasal dari kata Yunani yang berkaitan dengan sesuatu yang berlangsung setiap hari, juga menjadi asal nama Apphemeride.
Ekliptika
Lintasan tahunan tampak Matahari di antara bintang, yaitu proyeksi bidang orbit Bumi pada bola langit. Ekliptika miring sekitar 23,4° terhadap ekuator langit. Bulan dan planet umumnya berada di sekitar jalur ini, meskipun orbit masing-masing mempunyai kemiringan berbeda.Panduan: Koordinat langit — horizontal, ekuatorial dan ekliptika
Ekstingsi atmosfer
Pelemahan cahaya benda langit akibat hamburan dan penyerapan di atmosfer Bumi. Pengaruhnya membesar ketika cahaya melintasi massa udara yang lebih banyak. Pada langit jernih, pelemahan dekat zenit dapat sekitar 0,2–0,3 magnitudo dan dekat horizon jauh lebih besar; benda rendah juga tampak lebih kemerahan.Panduan: Kapan cukup gelap — senja, Bulan dan polusi cahaya
Ekuator langit
Proyeksi ekuator Bumi pada bola langit, membentuk lingkaran besar yang berjarak 90° dari kedua kutub langit. Deklinasi diukur dari bidang ini. Ekuator langit memotong horizon di timur dan barat; ketinggian maksimum busurnya bergantung pada besar lintang geografis, baik utara maupun selatan.Panduan: Asensio rekta dan deklinasi — bujur lintang langit
Ekuiluks
Tanggal ketika selang Matahari terbit–terbenam sama panjang dengan selang malam menurut definisi terbit–terbenam yang digunakan. Refraksi dan ukuran piringan Matahari membedakannya dari ekuinoks. Tanggalnya bergantung pada lintang; dekat khatulistiwa tidak tepat menerapkan aturan selisih beberapa hari dari lintang sedang.Panduan: Solstis dan ekuinoks — empat titik tahun Matahari
Ekuinoks
Saat bujur ekliptika tampak Matahari bernilai 0° pada Maret atau 180° pada September, berkaitan dengan perpindahannya melintasi ekuator langit. Istilah ekuinoks juga menyatakan acuan orientasi koordinat, misalnya ekuinoks J2000. Acuan tersebut perlu dibedakan dari epok pengukuran atau posisi suatu objek.Panduan: Solstis dan ekuinoks — empat titik tahun Matahari
Elemen Bessel
Sekumpulan besaran untuk menjelaskan geometri gerhana, termasuk posisi dan ukuran bayangan Bulan pada bidang yang melalui pusat Bumi. Besaran tersebut biasanya dinyatakan sebagai polinomial terhadap waktu. Elemen Bessel menjadi dasar penentuan lintasan gerhana dan waktu kontak setempat.Panduan: Gerhana Matahari — total, cincin dan sebagian
Elevasi pengamat
Ketinggian posisi pengamat terhadap acuan yang dinyatakan, misalnya permukaan laut. Ketinggian di atas laut berbeda dari tinggi di atas tanah atau permukaan jauh yang membentuk horizon. Dari tempat tinggi, kerendahan horizon dapat mengubah waktu terbit–terbenam, sementara perubahan tekanan udara sedikit memengaruhi refraksi. Elevasi juga sedikit mengubah posisi toposentrik Bulan. Punggung bukit di depan pengamat tetap merupakan penghalang tersendiri.Panduan: Refraksi dan kerendahan horizon — pengaruh pada terbit
Elongasi
Jarak sudut suatu benda dari Matahari sebagaimana terlihat dari Bumi. Pada Merkurius dan Venus rentangnya terbatas: elongasi maksimum Merkurius sekitar 18°–28°, sedangkan Venus sekitar 45°–47°. Nilai ini adalah pemisahan sudut di langit, bukan sekadar selisih bujur ekliptika.Panduan: Elongasi maksimum Merkurius dan Venus
Epok
Waktu acuan yang berlaku bagi posisi, gerak diri, atau elemen orbit. Epok katalog menyatakan kapan posisi bintang berlaku, sedangkan ekuinoks dan sistem acuan menentukan orientasi sumbu koordinat. J2000 dapat digunakan sebagai waktu acuan, tetapi epok dan ekuinoks tidak selalu berarti hal yang sama.Panduan: J2000, JNow, presesi dan nutasi — acuan koordinat

F

Fase Bulan
Bentuk bagian Bulan yang tampak diterangi, ditentukan oleh susunan Matahari, Bulan, dan Bumi. Fase utama ialah Bulan baru, perbani awal, purnama, dan perbani akhir, diselingi sabit serta cembung. Satu siklus berlangsung satu bulan sinodis; orientasi sisi terang dalam pandangan bergantung pada tempat dan waktu.Panduan: Fase Bulan — Bulan baru, perbani dan purnama
Fotosfer
Lapisan gas Matahari yang tampak sebagai permukaannya, tebalnya hanya beberapa ratus kilometer dan bersuhu efektif sekitar 5.800 kelvin. Sebagian besar cahaya tampak Matahari berasal dari sini. Bintik, fakula, dan granulasi terlihat pada fotosfer, sedangkan tepian piringan tampak lebih gelap akibat penggelapan tepi.Panduan: Bintik Matahari — siklus dan pengamatan aman

G

Gamma gerhana
Jarak minimum sumbu bayangan dari pusat Bumi pada gerhana Matahari, dalam satuan jari-jari ekuator Bumi. Nilai dekat nol menunjukkan lintasan sumbu dekat pusat Bumi; batas gerhana sentral juga bergantung pada bentuk Bumi dan geometri bayangan. Pada gerhana Bulan, gamma menjelaskan jarak lintasan Bulan dari sumbu bayangan Bumi.Panduan: Gerhana Matahari — total, cincin dan sebagian
Garis tengah gerhana
Lintasan sumbu bayangan Bulan di permukaan Bumi selama gerhana Matahari sentral. Di dekatnya, Matahari dan Bulan tampak paling terpusat dan fase total atau cincin umumnya paling lama pada penampang lintasan setempat. Batas wilayah gerhana sentral berada di kedua sisinya; durasi tetap berubah sepanjang lintasan.Panduan: Gerhana Matahari — total, cincin dan sebagian
Gerak diri
Perubahan perlahan posisi bintang akibat gerak sebenarnya di ruang angkasa, dinyatakan dalam detik atau milidetik busur per tahun. Sebagian besar bintang bergeser hanya sebagian kecil detik busur per tahun. Bintang Barnard merupakan contoh terkenal dengan gerak diri lebih dari 10 detik busur per tahun.Panduan: Cari bintang dengan nomor HR, HIP, HD dan TYC
Gerak retrograd
Gerak tampak planet ke barat terhadap latar bintang, berlawanan dengan arah umumnya ke timur. Geometri ini terjadi ketika Bumi mendahului planet luar atau ketika susunan pandang terhadap planet dalam berubah di sekitar konjungsi inferior. Planet tidak berbalik arah pada orbitnya sendiri.Panduan: Gerak retrograd — mengapa planet tampak mundur?
Gerhana hibrida
Gerhana Matahari langka yang berubah antara cincin dan total di sepanjang lintasannya. Kelengkungan permukaan Bumi membuat sebagian lokasi lebih dekat ke Bulan, sehingga umbra mencapai bagian tertentu sedangkan antumbra mencapai bagian lain. Gerhana 20 April 2023 merupakan contoh yang lintasannya juga melewati wilayah Indonesia.Panduan: Gerhana cincin — mengapa tersisa lingkaran cahaya?

H

Hamburan Rayleigh
Hamburan cahaya oleh partikel yang jauh lebih kecil daripada panjang gelombangnya, misalnya molekul udara. Cahaya berpanjang gelombang pendek dihamburkan jauh lebih kuat daripada cahaya merah. Karena itu langit siang tampak biru, sedangkan cahaya Matahari rendah yang menempuh atmosfer lebih panjang cenderung kemerahan.Panduan: Senja sipil, nautika dan astronomis — tiga tahap cahaya
Hari sideris
Waktu rotasi Bumi terhadap titik ekuinoks, rata-rata sekitar 23 jam 56 menit 4 detik waktu Matahari rata-rata. Nilainya hampir 3 menit 56 detik lebih pendek daripada hari Matahari. Karena itu bintang yang dapat terbit dan terbenam umumnya kembali ke arah yang sama hampir empat menit lebih awal setiap hari.Panduan: Waktu sideris — menghubungkan rotasi Bumi dan bintang
Horizon
Batas antara langit dan permukaan yang terlihat. Horizon matematis ditentukan oleh bidang tegak lurus arah vertikal pengamat, 90° dari zenit. Horizon tampak dapat berbeda karena gunung, bangunan, elevasi, dan kerendahan horizon. Ketinggian sudut serta definisi terbit–terbenam harus menyebut acuan yang sesuai.Panduan: Posisi Matahari — azimut, ketinggian dan bayangan
Hujan meteor
Peningkatan jumlah meteor yang berulang ketika Bumi melintasi jejak partikel komet atau asteroid. Lintasan meteor tampak berasal dari satu titik, yaitu radian, dan nama hujan biasanya mengikuti rasi tempat radian berada. Ketinggian radian dan kondisi langit menentukan banyaknya meteor yang tampak dari Indonesia.Panduan: Hujan meteor — titik radian, ZHR dan jumlah yang terlihat

I

Indeks populasi
Faktor bertambahnya jumlah meteor dari satu kelompok magnitudo ke kelompok berikutnya yang satu magnitudo lebih redup, biasanya dilambangkan r. Nilai lazim sekitar 2–3,5; nilai kecil berarti proporsi meteor terang lebih besar. Besaran ini digunakan ketika mengoreksi hasil pengamatan menjadi laju ZHR.Panduan: Hujan meteor — titik radian, ZHR dan jumlah yang terlihat
Indeks warna
Selisih magnitudo bintang pada dua pita panjang gelombang, sering B−V untuk pita biru dan visual. Nilai kecil atau negatif umumnya menunjukkan bintang panas kebiruan, sedangkan nilai besar menunjukkan bintang lebih dingin kemerahan. Matahari memiliki B−V sekitar 0,65; peredupan antarbintang juga dapat memengaruhi warna yang terukur.Panduan: Magnitudo bintang — angka kecil berarti lebih terang

J

J2000
Waktu acuan 1 Januari 2000 pukul 12.00 Waktu Terestrial, setara dengan Tanggal Julian 2.451.545,0. Sebutan koordinat J2000 biasanya merujuk pada ekuator dan ekuinoks acuan tersebut. Untuk posisi tampak pada tanggal lain, presesi dan nutasi diperlukan bersama koreksi lain yang relevan; istilah JNow harus dijelaskan menurut konteksnya.Panduan: J2000, JNow, presesi dan nutasi — acuan koordinat
Jam biru
Bagian dari cahaya peralihan ketika langit dapat tampak biru pekat dan pencahayaan buatan seimbang dengan langit. Matahari biasanya beberapa derajat di bawah horizon. Istilah fotografi ini tidak memiliki satu batas universal; rentang ketinggian Matahari yang digunakan sebagai definisi menentukan interval dalam Apphemeride, bukan selalu satu jam.Panduan: Jam emas dan jam biru — memahami cahaya fotografi
Jam emas
Periode sekitar Matahari terbit dan terbenam ketika Matahari rendah menghasilkan cahaya hangat, lembut, dan bayangan panjang. Rentangnya sering dinyatakan melalui ketinggian Matahari, misalnya +6° hingga −4°, tetapi definisi fotografi bervariasi. Di Indonesia durasinya tidak harus sama dengan di lintang sedang, apalagi tepat satu jam.Panduan: Jam emas dan jam biru — memahami cahaya fotografi

K

Kelas spektrum
Pengelompokan bintang berdasarkan ciri spektrumnya, terutama berkaitan dengan suhu permukaan. Urutan kelas utama O, B, A, F, G, K, dan M bergerak dari bintang panas kebiruan menuju bintang lebih dingin kemerahan. Matahari termasuk kelas G2; kelas luminositas memberi informasi tambahan yang berbeda.
Kemiringan cincin Saturnus
Sudut pandang kita terhadap bidang cincin Saturnus, dari hampir 0° ketika terlihat dari samping hingga sekitar 27° ketika terbuka lebar. Sudutnya berubah sepanjang orbit Saturnus yang berlangsung hampir 29,5 tahun, dengan pengaruh gerak Bumi pada pandangan geosentrik. Sisi cincin yang diterangi juga memengaruhi penampilannya.Panduan: Cincin Saturnus — kemiringan dan keterlihatan
Kerendahan horizon
Sudut antara horizon matematis dan horizon tampak yang lebih rendah ketika pengamat berada di tempat tinggi. Dengan horizon jauh yang bebas halangan, Matahari dapat terbit lebih awal dan terbenam lebih lambat. Efek ini tidak berarti punggung gunung terdekat ikut turun atau tidak menghalangi pandangan.Panduan: Refraksi dan kerendahan horizon — pengaruh pada terbit
Ketinggian sudut
Sudut suatu benda di atas horizon matematis:0° di horizon dan 90° di zenit. Nilai negatif berarti benda berada di bawah horizon. Bersama azimut, ketinggian sudut membentuk koordinat horizontal. Besaran ini berbeda dari elevasi lokasi pengamat yang dinyatakan sebagai panjang, misalnya meter.Panduan: Posisi Matahari — azimut, ketinggian dan bayangan
Kolongitudo
Bujur selenografis terminator pagi Bulan. Nilainya secara konvensional sekitar 0° saat perbani awal, 90° saat purnama, 180° saat perbani akhir, dan 270° saat Bulan baru. Pengamat menggunakannya untuk memperkirakan kapan kawah tertentu mendapat pencahayaan rendah yang menonjolkan reliefnya.
Konjungsi
Konfigurasi ketika dua benda memiliki bujur ekliptika atau asensio rekta yang sama, menurut definisi yang digunakan. Konjungsi planet dengan Matahari berarti keduanya berada pada arah umum yang serupa dari Bumi. Merkurius dan Venus memiliki konjungsi inferior maupun superior; konjungsi tidak selalu menghasilkan transit.Panduan: Oposisi, konjungsi dan kuadratur — posisi planet
Koordinat heliografis
Sistem untuk menyatakan posisi pada permukaan Matahari melalui lintang dan bujur heliografis. Bujur sering menggunakan sistem Carrington dengan periode rotasi sideris acuan sekitar 25,38 hari. Sistem ini membantu mengikuti kelompok bintik Matahari selama beberapa hari, meskipun permukaan Matahari sendiri mengalami rotasi diferensial.Panduan: Bintik Matahari — siklus dan pengamatan aman
Kuadratur
Konfigurasi ketika benda berada sekitar 90° di timur atau barat Matahari sebagaimana dilihat dari Bumi. Planet luar pada kuadratur timur umumnya melintasi meridian sekitar petang, pada kuadratur barat sekitar pagi. Bulan berada dekat konfigurasi ini pada perbani awal dan akhir; waktu jam setempat tidak persis tetap.Panduan: Oposisi, konjungsi dan kuadratur — posisi planet
Kulminasi
Lintasan benda langit melintasi meridian setempat. Kulminasi atas berada di bagian tertinggi lintasan hariannya, sedangkan kulminasi bawah di bagian terendah; untuk benda yang bergerak, perubahan deklinasi dapat sedikit menggeser saat tinggi maksimum. Kulminasi atas Matahari menandai tengah hari Matahari sejati, yang di Indonesia dapat berada di utara, selatan, atau dekat zenit.Panduan: Perata waktu dan waktu Matahari sejati

L

Librasi
Goyangan tampak Bulan yang memungkinkan sekitar 59% permukaannya terlihat dari Bumi secara bergantian, alih-alih hanya separuh. Penyebabnya antara lain orbit yang elips, kemiringan sumbu Bulan, dan perubahan sudut pandang pengamat. Librasi tidak berarti seluruh permukaan tambahan itu terlihat sekaligus.Panduan: Librasi Bulan — mengapa terlihat lebih dari separuh?
Lingkar kutub
Garis lintang sekitar 66,6° utara dan selatan, berjarak sebesar kemiringan sumbu Bumi dari masing-masing kutub. Di luarnya dimungkinkan Matahari tengah malam dan, dalam geometri tanpa refraksi, malam kutub. Letaknya berubah perlahan bersama kemiringan sumbu; ukuran piringan dan refraksi memengaruhi batas kejadian yang terlihat.Panduan: Siang dan malam kutub — Matahari tanpa terbit atau terbenam
Lunasi
Satu siklus fase Bulan dari Bulan baru ke Bulan baru berikutnya. Rata-ratanya 29,53 hari, sama dengan bulan sinodis, tetapi panjang tiap siklus dapat berbeda beberapa jam akibat orbit Bumi dan Bulan yang elips. Angka rata-rata tidak menggantikan waktu fase yang dihitung untuk setiap kejadian.Panduan: Fase Bulan — Bulan baru, perbani dan purnama

M

Magnitudo
Ukuran logaritmis kecerlangan tampak, dengan lambang mag. Angka lebih kecil berarti benda lebih terang; selisih 5 mag tepat setara dengan faktor 100 dalam intensitas cahaya, sedangkan 1 mag sekitar faktor 2,5. Magnitudo negatif dimungkinkan, misalnya untuk benda sangat terang seperti Venus.Panduan: Magnitudo bintang — angka kecil berarti lebih terang
Magnitudo batas
Magnitudo bintang paling redup yang masih dapat terlihat dalam kondisi pengamatan tertentu. Di langit gelap, batas mata telanjang umumnya sekitar 6–6,5 mag. Cahaya peralihan, Bulan, kabut, dan polusi cahaya menurunkan kepekaan pengamatan sehingga nilai batas menjadi lebih kecil.Panduan: Magnitudo bintang — angka kecil berarti lebih terang
Magnitudo mutlak
Magnitudo yang dimiliki bintang jika dilihat dari jarak 10 parsec. Besaran ini memungkinkan perbandingan kecerlangan intrinsik bintang; magnitudo visual mutlak Matahari sekitar 4,8. Untuk benda kecil Tata Surya berlaku definisi berbeda dengan jarak acuan satu satuan astronomi.Panduan: Magnitudo bintang — angka kecil berarti lebih terang
Magnitudo umbral
Pada gerhana Bulan, bagian diameter Bulan yang masuk ke umbra Bumi saat gerhana maksimum. Nilai antara 0 dan 1 berarti sebagian, sedangkan nilai sekurangnya 1 berarti total. Pada gerhana yang hanya melibatkan penumbra, nilai umbral negatif. Magnitudo ini bukan persentase luas piringan yang tertutup dan bukan kecerlangan bintang.Panduan: Gerhana Bulan — bayangan, fase dan warna merah
Malam kutub
Masa ketika Matahari tidak terbit bahkan sekitar tengah hari di kawasan kutub. Dekat lingkar kutub, refraksi dan ukuran piringan dapat memperpendek atau meniadakan interval yang terlihat, sedangkan dekat kutub durasinya hampir setengah tahun. Malam kutub tidak selalu berarti gelap total karena cahaya peralihan masih dapat terjadi.Panduan: Siang dan malam kutub — Matahari tanpa terbit atau terbenam
Matahari terbit
Saat tepi atas piringan Matahari muncul di horizon; terbenam ialah saat tepi itu menghilang. Konvensi standar untuk horizon datar memakai pusat Matahari sekitar 50 menit busur di bawah horizon matematis, mencakup sekitar 16 menit busur jari-jari Matahari dan 34 menit busur refraksi. Penghalang serta kondisi atmosfer mengubah pengamatan sebenarnya.Panduan: Matahari terbit dan terbenam — mengapa waktunya berubah?
Meridian
Lingkaran besar langit yang melalui titik utara dan selatan horizon serta zenit dan nadir. Benda mengalami kulminasi ketika melintasinya. Di lintang tropis Indonesia, kulminasi atas Matahari tidak selalu di selatan: arah utara atau selatannya bergantung pada deklinasi dan lintang pengamat.
Meteor
Gejala cahaya ketika partikel debu atau batu memasuki atmosfer Bumi, biasanya dengan kecepatan sekitar 11–72 kilometer per detik, dan memanaskan udara pada ketinggian sekitar 80–120 kilometer. Dalam percakapan sering disebut bintang jatuh, meskipun bukan bintang. Meteor sangat terang disebut bola api atau bolide.Panduan: Hujan meteor — titik radian, ZHR dan jumlah yang terlihat

N

Nadir
Titik tepat di bawah pengamat, berlawanan dengan zenit dan 90° di bawah horizon. Nadir tidak terlihat di langit di atas kita, tetapi menjadi arah acuan dalam sistem koordinat horizontal. Istilah ini menyatakan arah, bukan suatu benda langit.
Nomor katalog
Pengenal objek dalam katalog astronomi. Polaris, misalnya, tercatat sebagai HIP 11767 dan HD 8890; bintang Tycho-2 memakai nomor TYC tiga bagian. Satu bintang dapat mempunyai beberapa pengenal karena masuk beberapa katalog. Pengenal ini tetap berguna meskipun objek tidak tampak dari lokasi pengamat.Panduan: Cari bintang dengan nomor HR, HIP, HD dan TYC
Nutasi
Goyangan periodik sumbu Bumi yang menumpang pada perubahan presesi yang lebih lambat. Pengaruh Bulan merupakan penyebab utama. Komponen terbesarnya berperiode sekitar 18,6 tahun dengan amplitudo sekitar 17 detik busur dalam bujur ekliptika. Koreksi nutasi diperlukan untuk posisi tampak yang teliti.Panduan: J2000, JNow, presesi dan nutasi — acuan koordinat

O

Okultasi Bulan
Peristiwa ketika Bulan menutupi bintang atau planet. Bintang dapat hilang sangat mendadak karena atmosfer Bulan praktis tidak ada dan ukuran sudut bintang sangat kecil. Waktu serta keterlihatan okultasi sangat bergantung pada lokasi, terutama karena paralaks Bulan yang besar.Panduan: Okultasi Bulan — saat bintang atau planet tertutup
Okultasi singgung
Okultasi ketika lintasan tampak bintang hanya menyentuh tepian Bulan. Di jalur pengamatan yang sempit, bintang dapat menghilang dan muncul berulang kali di balik pegunungan serta lembah pada profil tepi Bulan. Pengukuran waktu oleh beberapa pengamat dapat membantu memetakan profil tersebut.Panduan: Okultasi Bulan — saat bintang atau planet tertutup
Oposisi
Konfigurasi planet luar ketika bujur ekliptikanya berbeda 180° dari Matahari, dilihat dari Bumi. Planet umumnya terlihat sepanjang malam dan berada dalam bagian orbit yang relatif dekat dengan Bumi. Waktu terdekat tidak harus tepat bersamaan dengan oposisi; terbit, kulminasi, dan terbenam setempat tetap perlu diperiksa.Panduan: Oposisi, konjungsi dan kuadratur — posisi planet

P

Paralaks
Pergeseran posisi tampak suatu benda jika dilihat dari dua tempat berbeda. Paralaks tahunan bintang digunakan untuk menentukan jaraknya. Untuk Bulan yang dekat, perubahan tempat pengamatan di permukaan Bumi saja dapat menggeser posisi hampir satu derajat; karena itu posisi geosentrik dan toposentrik perlu dibedakan.
Parsec
Jarak yang berhubungan dengan paralaks tahunan satu detik busur, yaitu ketika satu satuan astronomi membentang sudut tersebut. Satu parsec sekitar 3,26 tahun cahaya atau 30,9 triliun kilometer. Namanya berasal dari gabungan istilah paralaks dan detik busur, bukan satuan waktu.
Pasang surut
Perubahan bentuk Bumi dan laut karena tarikan gravitasi Bulan dan Matahari tidak sama kuat di seluruh bagian Bumi. Banyak pantai mengalami dua pasang setiap hari, tetapi pola setempat dipengaruhi bentuk pantai dan dasar laut. Sekitar Bulan baru dan purnama terjadi pasang purnama; sekitar fase perbani, rentangnya cenderung lebih kecil.Panduan: Fase Bulan — Bulan baru, perbani dan purnama
Penumbra
Bagian bayangan tempat sumber cahaya hanya tertutup sebagian. Pada gerhana Bulan, Bulan terlebih dahulu memasuki penumbra Bumi dan meredup secara halus. Lokasi yang masuk penumbra Bulan mengalami gerhana Matahari sebagian, dengan hanya sebagian piringan Matahari tertutup.Panduan: Gerhana Bulan — bayangan, fase dan warna merah
Perigeum
Titik terdekat dari Bumi pada orbit Bulan atau benda lain yang mengorbit Bumi. Jarak Bulan saat perigeum sekitar 356.000–370.000 kilometer, bervariasi antarorbit. Purnama yang terjadi dekat perigeum populer disebut supermoon karena ukuran tampaknya lebih besar dibandingkan purnama dekat apogeum.Panduan: Supermoon dan minimoon — jarak mengubah ukuran tampak
Perihelion
Titik terdekat dari Matahari pada orbit suatu benda. Bumi mencapainya pada awal Januari dengan jarak sekitar 147 juta kilometer. Merkurius berjarak sekitar 46 juta kilometer dari Matahari di perihelionnya. Kedekatan ini tidak boleh disamakan dengan penyebab utama pergantian musim di Bumi.
Perlintasan Matahari melalui ekuator langit
Saat Matahari melintasi ekuator langit pada sekitar 20 Maret dan 22 atau 23 September, disebut ekuinoks. Siang dan malam hampir seimbang di banyak tempat, tetapi refraksi serta jari-jari Matahari membuat selang terbit–terbenam sedikit lebih panjang. Ekuinoks adalah satu saat astronomis global, bukan satu hari dengan durasi siang persis 12 jam di setiap lokasi.Panduan: Solstis dan ekuinoks — empat titik tahun Matahari
Persamaan waktu
Selisih waktu Matahari sejati terhadap waktu Matahari rata-rata. Timbul dari orbit Bumi yang elips dan kemiringan sumbu Bumi, dengan rentang tahunan kira-kira −14 hingga +16 menit untuk konvensi tanda ini. Koreksi bujur dan zona waktu adalah hal terpisah; persamaan waktu bukan persamaan untuk menghitung semua waktu sipil sekaligus.Panduan: Perata waktu dan waktu Matahari sejati
Polaris
Bintang paling terang di Ursa Minor, bermagnitudo sekitar 2 dan berjarak kurang dari 1° dari kutub langit utara. Di belahan utara, tingginya kira-kira sama dengan lintang pengamat. Dari Jakarta dan Bromo bintang ini berada di bawah horizon, sehingga bukan penunjuk utara yang dapat digunakan di sana.Panduan: Mengenali rasi — pola bintang sebagai penunjuk
Presesi
Perubahan perlahan arah sumbu Bumi seperti gerak gasing, terutama akibat tarikan Matahari dan Bulan pada Bumi yang pepat. Satu siklus berlangsung sekitar 25.800 tahun. Titik Aries bergeser sekitar 50 detik busur per tahun sepanjang ekliptika, sehingga acuan koordinat perlu disebut ketika membandingkan posisi dari zaman berbeda.Panduan: J2000, JNow, presesi dan nutasi — acuan koordinat

R

Radian hujan meteor
Titik di langit tempat lintasan meteor suatu hujan tampak berasal. Lintasan partikel sebenarnya hampir sejajar, tetapi perspektif membuatnya terlihat memencar dari satu arah. Radian yang lebih tinggi umumnya memungkinkan lebih banyak meteor terlihat; jika di bawah horizon, pengamatan hujan sangat terbatas.Panduan: Hujan meteor — titik radian, ZHR dan jumlah yang terlihat
Rasi bintang
Satu dari 88 wilayah langit resmi yang diakui IAU sejak 1922, dengan batas yang ditetapkan secara tepat pada 1930. Dalam percakapan, istilah rasi sering berarti pola bintang yang dikenal. Secara astronomis, setiap titik di langit berada dalam tepat satu wilayah rasi, meskipun tidak ada bintang terang di sana.Panduan: Mengenali rasi — pola bintang sebagai penunjuk
Refraksi atmosfer
Pembelokan cahaya oleh atmosfer yang membuat benda langit tampak lebih tinggi daripada posisi geometrisnya. Nilai standar dekat horizon sekitar 34 menit busur, sedikit lebih besar daripada diameter tampak Matahari. Karena itu Matahari masih dapat terlihat ketika piringan geometrisnya sudah berada di bawah horizon; kondisi atmosfer nyata dapat mengubah nilainya.Panduan: Refraksi dan kerendahan horizon — pengaruh pada terbit
Rotasi sinkron
Keadaan ketika periode rotasi suatu benda sama dengan periode orbitnya mengelilingi benda utama. Pengaruh pasang surut membuat Bulan hampir selalu menghadap Bumi dengan sisi yang sama. Librasi tetap memungkinkan pengamat melihat sekitar 59% seluruh permukaan Bulan secara bergantian dari waktu ke waktu.Panduan: Librasi Bulan — mengapa terlihat lebih dari separuh?

S

Saros
Siklus gerhana sepanjang 223 bulan sinodis, sekitar 18 tahun 11 hari 8 jam, dengan sedikit variasi hitungan hari kalender. Setelahnya geometri Matahari, Bulan, dan simpul orbit kembali hampir serupa. Tambahan sekitar 8 jam membuat lintasan gerhana Matahari berikutnya bergeser kira-kira 120° ke barat, bukan kembali ke lokasi yang sama.Panduan: Gerhana Matahari — total, cincin dan sebagian
Satelit Galilea
Empat satelit besar Jupiter: Io, Europa, Ganimede, dan Kalisto, yang ditemukan Galileo Galilei pada 1610. Magnitudonya sekitar 4,6–5,7 sehingga dapat terlihat dengan binokular dalam kondisi sesuai, meskipun silau Jupiter menyulitkan. Susunannya berubah dari malam ke malam akibat gerak orbit.Panduan: Satelit Jupiter — Io, Europa, Ganimede dan Kalisto
Satuan astronomi
Satuan panjang untuk jarak dalam Tata Surya, dengan lambang internasional au. Sejak 2012 nilainya didefinisikan tepat 149.597.870.700 meter, kira-kira jarak rata-rata Bumi–Matahari. Nilai satuan ini tetap; jarak Bumi–Matahari yang sebenarnya berubah sepanjang orbit.
Senja astronomis
Tahap fajar pagi atau senja petang ketika pusat Matahari berada antara 12° dan 18° di bawah horizon. Setelah Matahari lebih rendah dari −18°, langit secara konvensional memasuki malam astronomis. Cahaya Bulan, polusi cahaya, dan atmosfer masih dapat membuat langit terang.Panduan: Senja sipil, nautika dan astronomis — tiga tahap cahaya
Senja dan fajar
Masa peralihan sesudah Matahari terbenam dan sebelum terbit ketika atmosfer menghamburkan cahaya Matahari. Berdasarkan kedalaman pusat Matahari, tahapnya dibedakan menjadi sipil, nautika, dan astronomis, dengan batas 6°, 12°, dan 18° di bawah horizon. Definisi astronomis ini mencakup petang maupun pagi.Panduan: Senja sipil, nautika dan astronomis — tiga tahap cahaya
Senja nautika
Tahap ketika pusat Matahari berada 6° hingga 12° di bawah horizon, pada petang maupun pagi. Namanya berasal dari navigasi laut: dalam kondisi sesuai, horizon masih dapat dibedakan sementara bintang terang sudah terlihat. Awan dan kondisi atmosfer tetap memengaruhi apa yang benar-benar terlihat.Panduan: Senja sipil, nautika dan astronomis — tiga tahap cahaya
Senja sipil
Selang dari Matahari terbenam hingga pusatnya mencapai 6° di bawah horizon, atau urutan sebaliknya sebelum terbit. Cahaya alami sering masih cukup untuk kegiatan biasa di luar ruangan. Planet dan bintang paling terang mulai terlihat, tergantung awan serta keadaan horizon.Panduan: Senja sipil, nautika dan astronomis — tiga tahap cahaya
Siklus Matahari
Pola perubahan aktivitas Matahari dengan rata-rata periode sekitar 11 tahun, tampak pada bintik, suar, dan fenomena terkait. Polaritas medan magnet berbalik dalam tiap siklus, sehingga siklus magnetik lengkap berlangsung sekitar 22 tahun. Siklus 25 bermula pada akhir 2019; fase aktivitas terkini perlu dirujuk pada data bertanggal.Panduan: Bintik Matahari — siklus dan pengamatan aman
Simpul orbit Bulan
Dua titik perpotongan orbit Bulan, yang miring sekitar 5,1°, dengan ekliptika: simpul naik dan simpul turun. Gerhana hanya mungkin jika Bulan baru atau purnama terjadi dekat salah satunya. Garis simpul bergerak mundur mengelilingi ekliptika dalam sekitar 18,6 tahun.Panduan: Gerhana Matahari — total, cincin dan sebagian
Sirkumpolar
Benda disebut sirkumpolar dari suatu lokasi jika lintasan hariannya tidak pernah melewati bawah horizon geometris. Sifat ini bergantung pada lintang dan deklinasi, bukan pada rasi saja. Di dekat khatulistiwa sangat sedikit wilayah langit memenuhi syarat; contoh Eropa seperti Cassiopeia tidak dapat langsung diterapkan ke Jakarta.Panduan: Siang dan malam kutub — Matahari tanpa terbit atau terbenam
Sistem koordinat ekuatorial
Sistem posisi langit yang menggunakan ekuator langit sebagai bidang acuan, dengan asensio rekta sepanjang ekuator dan deklinasi tegak lurus terhadapnya. Posisi bintang relatif stabil dalam acuan yang sama, tetapi gerak diri, presesi, dan nutasi tetap penting. Koordinat benda bergerak juga berubah terhadap waktu.Panduan: Koordinat langit — horizontal, ekuatorial dan ekliptika
Sistem koordinat horizontal
Sistem posisi langit yang menggunakan horizon pengamat sebagai bidang dasar, dengan azimut dan ketinggian sudut. Sistem ini langsung menunjukkan arah pandang setempat. Nilainya berubah dengan waktu serta lokasi, karena berhubungan langsung dengan horizon dan orientasi Bumi yang berotasi.Panduan: Koordinat langit — horizontal, ekuatorial dan ekliptika
Sizigi
Susunan Matahari, Bumi, dan Bulan atau benda lain yang hampir segaris. Bulan baru dan purnama merupakan sizigi; gerhana dapat terjadi jika Bulan juga dekat simpul orbitnya. Penguatan pasang surut di sekitar sizigi tidak berarti setiap lokasi pantai mengalami pola dan waktu pasang yang sama.Panduan: Fase Bulan — Bulan baru, perbani dan purnama
Skala Danjon
Skala lima tingkat untuk warna dan kecerlangan Bulan selama gerhana Bulan total. L0 menandai Bulan yang sangat gelap dan hampir tak terlihat; L4 menandai warna tembaga atau jingga yang terang dengan tepian kebiruan. Debu, aerosol, dan awan dalam atmosfer Bumi memengaruhi penampilannya.Panduan: Gerhana Bulan — bayangan, fase dan warna merah
Solstis
Saat Matahari mencapai deklinasi paling utara atau selatan, sekitar +23,4° pada Juni dan −23,4° pada Desember. Di belahan utara, solstis Juni membawa siang terpanjang dan solstis Desember siang terpendek; di selatan berlaku sebaliknya. Indonesia dekat khatulistiwa mengalami variasi panjang siang yang lebih kecil daripada lintang tinggi.Panduan: Solstis dan ekuinoks — empat titik tahun Matahari
Sudut fase
Sudut antara arah Matahari dan arah Bumi jika dilihat dari benda langit. Pada 0° kita melihat sisi terang penuh, pada 90° kira-kira separuh, dan mendekati 180° terutama sisi malam. Planet luar mempunyai rentang lebih terbatas; sudut fase Mars dapat mencapai sekitar 47°.
Sudut jam
Jarak sudut suatu benda dari meridian, diukur ke barat sepanjang ekuator langit dan sering dinyatakan dalam jam. Sudut jam sama dengan waktu sideris lokal dikurangi asensio rekta, dengan konvensi rentang yang sesuai. Nilainya nol ketika benda melintasi meridian atas.Panduan: Waktu sideris — menghubungkan rotasi Bumi dan bintang
Sudut posisi
Arah suatu titik relatif terhadap titik lain di langit, diukur dari utara menuju timur pada bidang langit setempat. Besaran ini dapat menyatakan tempat bintang menghilang pada tepi Bulan, lokasi kontak awal gerhana, atau orientasi bintang ganda. Arah pada layar bergantung pula pada orientasi tampilan.Panduan: Kontak gerhana C1–C4 — arti setiap tahap
Supermoon
Sebutan populer untuk purnama di dekat perigeum. Dibandingkan purnama dekat apogeum, diameter tampaknya dapat sekitar 14% lebih besar dan kecerlangannya sekitar 30% lebih tinggi. Perbedaan ini merupakan perbandingan kondisi ekstrem, bukan jaminan setiap kejadian; tanpa pembanding langsung, perubahan ukuran sulit dinilai dengan mata telanjang.Panduan: Supermoon dan minimoon — jarak mengubah ukuran tampak

T

Tahun cahaya
Jarak yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa selama satu tahun Julian, sekitar 9,46 triliun kilometer. Tahun cahaya adalah satuan jarak, bukan waktu. Proxima Centauri, bintang terdekat setelah Matahari, berjarak sekitar 4,2 tahun cahaya dari kita.
Tanggal Julian
Hitungan hari berkesinambungan yang bermula pada 1 Januari 4713 SM dalam kalender Julian, pukul 12.00. Pecahan hari dinyatakan sebagai desimal sehingga selang waktu mudah dibandingkan tanpa pergantian bulan. Skala waktunya tetap harus disebut, misalnya TT atau UT1; Tanggal Julian berbeda dari kalender Julian.Panduan: Hari Julian, UT, TT dan ΔT — waktu dalam astronomi
Terminator
Batas antara sisi terang dan sisi malam suatu benda langit. Di dekat terminator Bulan, pegunungan dan kawah menghasilkan bayangan panjang sehingga reliefnya mudah terlihat melalui teleskop. Terminator berubah posisinya mengikuti fase, dan tidak selalu tampak tegak atau mempunyai orientasi yang sama dari setiap tempat.Panduan: Fase Bulan — Bulan baru, perbani dan purnama
Titik Aries
Titik perpotongan ekliptika dan ekuator langit tempat Matahari bergerak ke sisi utara ekuator saat ekuinoks Maret. Titik ini menjadi titik nol asensio rekta dan bujur ekliptika. Akibat presesi, posisinya bergeser perlahan ke barat; nama historisnya tidak berarti kini berada dalam rasi Aries.Panduan: Asensio rekta dan deklinasi — bujur lintang langit
Toposentrik
Dirujuk pada posisi pengamat di permukaan Bumi, bukan pusat Bumi seperti dalam acuan geosentrik. Perbedaannya sangat penting untuk Bulan karena jaraknya relatif dekat. Koordinat toposentrik dapat berbeda antarlokasi, bahkan jika dinyatakan dengan asensio rekta dan deklinasi, bukan hanya dengan koordinat horizontal.
Transit
Istilah astronomi dengan dua penggunaan utama: perlintasan benda yang tampak lebih kecil di depan piringan benda lain, misalnya Merkurius di depan Matahari, dan perlintasan benda melalui meridian setempat. Makna kedua sama dengan kulminasi; konteks diperlukan agar kedua peristiwa tersebut tidak tertukar.Panduan: Transit Merkurius dan Venus di depan Matahari
Tycho-2
Katalog sekitar 2,5 juta bintang berdasarkan pengukuran satelit Hipparcos dan katalog posisi terdahulu. Memuat posisi, gerak diri, serta fotometri dalam dua pita. Kelengkapannya sekitar 99% hingga V≈11 dan 90% hingga V≈11,5; batas kelengkapan berbeda dari magnitudo objek paling redup yang tercantum.Panduan: Cari bintang dengan nomor HR, HIP, HD dan TYC

U

Umbra
Wilayah bayangan tempat seluruh sumber cahaya tertutup oleh benda penghalang. Bulan yang seluruh piringannya berada dalam umbra Bumi mengalami gerhana Bulan total. Lokasi di permukaan Bumi yang dilintasi umbra Bulan mengalami gerhana Matahari total, selama piringan Matahari tertutup sepenuhnya.Panduan: Gerhana Bulan — bayangan, fase dan warna merah
Umur Bulan
Waktu dalam hari sejak Bulan baru terakhir. Perbani awal terjadi kira-kira pada umur 7,4 hari dan purnama sekitar 14,8 hari, tetapi nilainya bervariasi akibat gerak orbit yang tidak seragam. Umur Bulan saja tidak menentukan apakah sabit akan terlihat; geometri dan keadaan pengamatan juga penting.Panduan: Fase Bulan — Bulan baru, perbani dan purnama

W

Waktu kontak
Waktu ketika tepian dua piringan bersinggungan pada gerhana atau transit. Gerhana Matahari menggunakan C1–C4. Gerhana Bulan menggunakan P1 dan P4 untuk masuk–keluar penumbra serta U1–U4 untuk tahap umbra. Tidak semua kontak terjadi pada semua jenis gerhana atau terlihat dari setiap lokasi.Panduan: Kontak gerhana C1–C4 — arti setiap tahap
Waktu Matahari sejati
Waktu berdasarkan posisi Matahari sebenarnya terhadap meridian lokasi Anda. Pukul 12.00 waktu Matahari sejati terjadi saat kulminasi atas Matahari. Selisih terhadap waktu zona dipengaruhi bujur, persamaan waktu, dan aturan waktu sipil; WIB, WITA, dan WIT bukan waktu Matahari sejati setiap kota.Panduan: Perata waktu dan waktu Matahari sejati
Waktu sideris
Sudut jam titik Aries yang dinyatakan sebagai waktu, berkaitan dengan rotasi Bumi terhadap acuan langit. Waktu sideris lokal menunjukkan asensio rekta yang sedang melintasi meridian atas. Satu hari sideris hampir empat menit lebih pendek daripada hari Matahari rata-rata; nilainya berbeda antarmeridian pengamat.Panduan: Waktu sideris — menghubungkan rotasi Bumi dan bintang
Waktu tempuh cahaya
Waktu yang diperlukan cahaya untuk mencapai Bumi dari suatu benda: sekitar satu detik dari Bulan dan sedikit lebih dari delapan menit dari Matahari. Karena itu, kita selalu melihat keadaan benda ketika cahaya dipancarkan, bukan keadaan seketika pada waktu cahaya diterima.
Waktu Terestrial (TT)
Skala waktu yang berjalan seragam untuk efemeris dan pengamatan yang dirujuk ke permukaan Bumi. TT berkaitan dengan Waktu Atom Internasional, dengan TT(TAI) mendahului TAI tepat 32,184 detik. Selisih TT terhadap UT1 disebut ΔT; selisih terhadap UTC berbeda dan bergantung pada aturan UTC.Panduan: Hari Julian, UT, TT dan ΔT — waktu dalam astronomi
Waktu Universal (UT)
Skala waktu yang berkaitan dengan rotasi Bumi, dengan UT1 sebagai bentuk yang digunakan dalam astronomi presisi. UTC berbeda: dasarnya adalah waktu atom dengan aturan penyesuaian tertentu. Hubungan UTC dan UT1 harus dirujuk pada aturan yang berlaku, termasuk perubahan menuju UTC berkelanjutan mulai 20 Mei 2027 menurut CGPM 2026.Panduan: Hari Julian, UT, TT dan ΔT — waktu dalam astronomi

Z

Zenit
Titik tepat di atas pengamat, 90° di atas horizon matematis. Benda dapat melintas di zenit ketika deklinasinya sama dengan lintang geografis pengamat. Matahari hanya dapat melakukannya di antara kedua garis balik, sehingga fenomena ini relevan di banyak wilayah Indonesia, dengan tanggal berbeda menurut lintang.Panduan: Posisi Matahari — azimut, ketinggian dan bayangan
ZHR
Singkatan Zenithal Hourly Rate, yaitu laju meteor per jam yang dinormalisasi ke kondisi ideal: radian di zenit dan magnitudo batas 6,5. Jumlah yang benar-benar terlihat biasanya lebih rendah akibat ketinggian radian, cahaya Bulan, polusi cahaya, dan penghalang. ZHR bukan jumlah meteor yang pasti terlihat dari lokasi Anda.Panduan: Hujan meteor — titik radian, ZHR dan jumlah yang terlihat
Zodiak
Sabuk wilayah rasi di sekitar ekliptika yang dilalui Matahari dan menjadi kawasan gerak Bulan serta banyak planet. Secara astronomis Matahari melewati 13 rasi, termasuk Ophiuchus. Dua belas tanda astrologi berukuran sama merupakan pembagian lain dan tidak sama dengan batas rasi resmi; presesi mengubah hubungan keduanya.Panduan: Mengenali rasi — pola bintang sebagai penunjuk

Unduh Apphemeride

Unduh gratis. Fitur dasar Matahari dan Bulan selalu gratis. Fitur lainnya dibuka lewat pembelian sekali setelah uji coba 3 hari, tanpa langganan.

Unduh Apphemeride di App Store